Tiba-Tiba Kita Dewasa
Tiba-tiba kita dewasa begitu saja. Kita terpaksa menanggalkan mimpi-mimpi yang kita rajut di masa kecil. Mimpi-mimpi yang hari ini kita anggap begitu mustahil. Kita terpaksa kehilangan beberapa kawan, yang mungkin di masa lalu selalu bilang “di antara kita, jangan ada yang memutus tali persahabatan”. Kita terpaksa kehilangan mereka, karena tiba-tiba kita menjadi dewasa, yang punya kesibukan masing-masing, sibuk mencari kebahagiaan lain, sibuk menanggung berbagai macam tuntutan, sibuk dengan berbagai macam permasalahan, sibuk merutuki nasib dalam diri, sibuk mencari ketenangan dan kesenangan sendiri-sendiri.
Tiba-tiba kita dewasa. Rasanya, kita belum benar-benar menikmati; makanan suapan tangan ibu, juga ninabobo-nya, yang dengan nyanyian apa pun, terdengar sangat merdu, sentuhan tangannya ketika kita mandi dan gosok gigi, pelukannya ketika kita menggigil pada suatu hari. Rasanya, kita belum benar-benar merasakan euforia; naik di pundak ayah, ingin mengambil bulan dengan galah, duduk di boncengan sepedanya dengan kaki diikat di bawah sadel, dibopong ke kamar ketika kita ketiduran di ruang tamu, juga pemberian uang dari saku tanpa sepengetahuan ibu.
Tiba-tiba kita dewasa. Rasanya, kita belum benar-benar menikmati masa remaja; memanjat pohon tinggi-tinggi, seharian mandi di kali, bermain sampai lupa waktu, bertindak asal-asalan dan tak mau tahu, bolos ke kantin ketika pelajaran di sekolahan tampak membosankan, jatuh cinta dengan cara yang amat lugu, malu-malu dan banyak kenorakan yang tidak perlu, dan lain sebagainya, yang kita tahu itu sangat berkesan bagi kita.
Tiba-tiba kita dewasa. Tiba-tiba kita dewasa dengan berbagai kerumitan-kerumitan yang menyertainya. Seperti mengerjakan teka-teki seumur hidup, yang seolah-olah di sana tertera kata-kata “mau tak mau, bisa atau tak bisa, kau harus tetap sanggup”.
Daruz Armedian
Komentar
Posting Komentar